Kenalan Lewat Beasiswa

Ketika banyak kedai kopi dibuat dengan desain yang ramai, Kopi Kalyan memilih sebaliknya. Dinding-dinding diwarnai sebatas putih atau dibiarkan menganga hingga tampak permukaan batu bata. Perabotan seperti kursi, meja, dan sofa, menempati sudut-sudut bangunan secara pas dan terukur sehingga pengunjung lancar berlalu-lalang. Pintu masuknya adalah lempengan kayu cokelat kehitaman yang di kanan-kirinya berdiri beberapa lempeng kaca. Dengan demikian, orang-orang yang khusuk minum kopi atau asyik mengudap makanan tetap terhubung dengan dunia luar, dunia yang kebetulan, pada hari Minggu, 20 November 2016, dijatuhi hujan.

nysrfoundation-1_9635
KopiKalyan – Jl. Cikajang No. 61 Petogogan – Jakarta Selatan

Di Aceh atau Pontianak, mengunjungi kedai kopi biasa dijadikan sebagai ajang perkenalan. Perangkat elektronik dijauhkan, kursi-kursi didekatkan. Orang-orang yang sebelumnya tidak mengenal berdiskusi tentang cuaca, tata kota, dan politik. Acara yang diadakan di Kopi Kalyan, Jakarta Selatan, mencoba meniru konsep itu, tapi materi obrolannya lebih khusus: tentang kriminologi.

“Kriminologi itu identik dengan pakaian hitam. Masa bimbingan kita kan sekelompok, satu rombongan besar jalan ke (taman) teletabis untuk masa bimbingan. Sampai ada yang nanya ke saya, “Bang, nonton konser metal di mana?” Item semua gitu kan.” seru Taufik Akbar, mahasiswa kriminologi angkatan 2011 yang saat itu sedang menghibur pengunjung dengan sebuah pertunjukkan stand up comedy. “Itu masih mending, ada lagi yang lebih parah: “Misi, Bang, ini yang meninggal sebelah mana?””

109652
Taufik Akbar – Kriminologi 2011 (Bassist, Komika)

Bagi sebagian mahasiswa atau alumni yang datang pada hari itu, materi stand-up ini mungkin tidak asing. Tapi hal ini berbeda untuk untuk Alfa Nurul Atika, Leonie Paula, dan Mawar Safhira Nadhila sebab ini mungkin pertama kalinya mereka mendengar jurusan mereka jadi bahan lelucon yang terkadang menimbulkan tawa terpaksa oleh teman-teman Taufik yang berjiwa korsa.

Tiga perempuan ini adalah penerima beasiswa NYSR Foundation. Nama mereka telah disaring dari sejumlah nama mahasiswa baru kriminologi lainnya sejak Agustus 2016. Proses yang mengumpulkan sebanyak 28 kandidat penerima beasiswa, menghabiska waktu selama empat bulan proses seleksi hingga terpilihlah mereka bertiga. Ya, mereka datang hari itu untuk menerima secara simbolik bantuan beasiswa berupa uang Biaya Operasional Pendidikan (BOP) selama dua semester penuh.

nysrfoundation-1_5098
Alfa, Leonie, dan Mawar serta perwakilan NYSR Foundation

Tapi yang lebih penting lagi: mereka datang untuk berkenalan dengan mahasiswa dan alumni yang pernah berjuang untuk lulus jadi kriminolog. Mereka mendengar cerita yang beragam tentang kegiatan di jurusan kriminologi dan prospek masa depan lulusannya.

Pangesti Dimas dan Kahfi Dirga Cahya, Master of Ceremony pada hari itu, menjelaskan bagaimana kriminologi membantu mereka dalam pekerjaan, yakni untuk menganalisis calon partner bisnis atau untuk menulis berita. Cerita mereka berdua ataupun peserta lain di kegiatan hari itu tentu belum bisa mewakili semua cerita tentang kriminologi. Maka tidak mengherankan, para pengurus NYSR Foundation punya ambisi agar lebih banyak orang yang bergabung dalam gerakan ini, sehingga lebih banyak lagi orang yang terhubung dan saling berbagi cerita.

nysrfoundation-1_5983
Fariz Altyo P – Ketua NYSR Foundation

“N (dalam NYSR Foundation) melambangkan jumlah pemuda yang ingin berkontribusi terhadap dunia pendidikan bersama dengan NYSR Foundation,” jelas Fariz Altyo Pradana, Ketua NYSR Foundation. Dalam kata sambutannya itu pun, ia mengundang pemuda-pemudi lain untuk bergabung dan turut menabung dana komitmen.

Keinginan ini pun sama dirasakan oleh perwakilan orang tua penerima beasiswa. Mereka berharap, dan juga mendoakan, supaya ke depannya, program ini bisa memberikan beasiswa ke lebih banyak orang.

Pada jam 15.00, Kopi Kalyan sudah harus dibuka untuk umum lagi. Kebersamaan yang ditunjukkan lewat sajian prasmanan, berbagi cerita, penyerahan beasiswa, menyanyikan lagu bersama, harus dihentikan. Pertanyaan yang harus diajukan ketika orang-orang ini keluar adalah: seberapa langgeng perkenalan yang dibangun hari Minggu ini. Apakah hanya akan berlangsung sekejap saja?

nysrfoundation-1_6693
NYSR Foundation dan keluarga Batch I

Atau, jangan-jangan, akan terwujud apa yang sesuai dengan harapan Fariz Altyo: “Program ini bisa terus berlanjut sampai ke depannya, sampai waktu yang sangat lama.” Batch II menanti, tanggung jawab besar di depan. Ini bukan beban, ini tanggung jawab karena bukankah seharusnya tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia?

— Albert Wirya S*

_________________________________________________________________

*Albert Wirya adalah alumni Departemen Kriminologi Universitas Indonesia angkatan 2011. Sekarang, Albert Wirya bekerja dan mengabdi untuk memperjungkan hak asasi manusia dalam LBH Masyarakat. Albert juga rajin menulis karya seni yang diunggah di dalam PeluruKosong

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s