Kuat dan Lemahnya Perempuan dalam Wacana

Sikap menyalahkan korban ini seolah-olah meniadakan pertimbangan-pertimbangan lain tentang korban. Padahal patutnya diingat oleh masyarakat bahwa ketika terjadi kejahatan, seorang korban mendapatkan pengalaman bukan dipandang sebagai bukan manusia, bukan orang, atau kurang dari mahluk yang sempurna (Henry & Milovanovic, 2000).

Ketika seseorang tertimpa kejahatan konvensional, seperti pencurian, penjambretan, kekerasan, sadar tak sadar masyarakat sering membuat penilaian sendiri apakah benar pantas orang itu menjadi korban. Kalau korban itu seorang binaraga yang memiliki otot besar atau orang ‘pintar’ yang bisa ngelmu, masyarakat sering merasa tidak percaya. Mereka berpikir, mana berani penjahat melakukan aksinya kepada orang-orang ‘kuat’ itu. Sebaliknya ketika perempuan yang menjadi korban kejahatan, sebagian orang masih berpikir bahwa memang wajar kalau perempuan menjadi korban. Dengan kondisi fisik yang sering dikatakan nomor dua dibandingkan laki-laki, perempuan seringkali dianggap sebagai kaum yang lemah, karena itu lebih mungkin menjadi korban kejahatan.

Kalau pembaca sadar, dari tadi saya tidak menyebutkan perempuan dengan karakteristik ter-tentu, seperti mungkin rambut cepak atau badan tegap, karena terkadang hanya dengan menyandang predikat perempuan saja, sebagian orang akan langsung menganggapnya kelas nomor dua dalam hal kekuatan. Kalau anggapannya sudah begini, masyarakat bisa melakukan lebih buruk lagi—victim blaming—yakni menyalahkan korban atas kejahatan yang terjadi. Contoh yang paling sering terjadi adalah pada perempuan korban kekerasan rumah tangga. Masyarakat yang mendengarkan keterangan mereka biasanya akan merasakan heran dan memberikan persepsi bahwa perempuan itu lemah secara fisik dan mental. Masyarakat berpikir kalau ia kuat, tidak mungkin ia bisa bertahan di rumah tangga yang penuh kekerasan itu (Lif, 2013).

Menitikberatkan kesalahan kepada korban selain bisa memberikan efek psikologis yang buruk kepada korban, bisa membenarkan aksi kejahatan tersebut. Pelaku kejahatan bisa merasa bahwa perbuatannya benar dan tidak takut lagi kepada sanksi sosial yang akan diberikan masyarakat kepadanya (Gracia, 2014). Sikap menyalahkan korban ini seolah-olah meniadakan pertimbangan-pertimbangan lain tentang korban. Padahal patutnya diingat oleh masyarakat bahwa ketika terjadi kejahatan, seorang korban mendapatkan pengalaman bukan dipandang sebagai bukan manusia, bukan orang, atau kurang dari mahluk yang sempurna (Henry & Milovanovic, 2000).

Sikap menyalahkan korban kejahatan ini tidak pernah adil untuk si korban. Kalau ungkapan, tepatnya seperti sudah jatuh tertimpa tangga sungguh—rasanya tepat untuk menggambarkan situasi bagaimana posisi korban. Dalam artikel ini akan coba untuk dibahas apa yang menyebabkan konstruksi masyarakat terhadap perempuan korban kejahatan. Konstruksi yang menyatakan bahwa perempuan adalah mahluk yang lemah sehingga ketika terjadi kejahatan, orang-orang malah akan menyalahkan si korban. Terakhir sebagai penutup akan dipertanyakan kembali apakah kita sebagai masyarakat terdidik pantas mempertahankan cara berpikir seperti itu.

Perempuan terjebak Wacana

Pemikiran yang menyetujui perempuan sebagai kaum yang lebih lemah dari laki-laki berasal dari konstruksi media yang diterima oleh masyarakat umum. Beberapa media yang tersedia di kehidupan ini bisa berupa film, sastra, dan media massa. Ketiga media ini turut mempengaruhi perspektif masyarakat dalam melihat perempuan yang akhirnya mempengaruhi cara pandang mereka terhadap perempuan sebagai korban kejahatan. Film, misal, sebagai media visual dan tulisan bisa dengan mudah menyampaikan ide-ide diskriminatif terhadap perempuan sebagai korban kejahatan. Cerita dari film yang membutuhkan penokohan pada akhirnya membuat karakter-karakter yang ada di film memiliki sifat-sifat tertentu. Di dalam sifat-sifat ini biasanya terselip atribut spesifik gender apa yang disebut sebagai “maskulin” dan “feminim” (Sarkeesian, 2010).

Film televisi fiksi populer pada tahun 1990-an dan 2000-an terbukti berakar kuat pada konstruksi gender yang merugikan perempuan. Karakter yang feminim digambarkan sebagai karakter yang pemalu, tergantung, pasif, histeris, submisif, dan, tentu saja, lemah. Bahkan sekalipun perempuan itu ingin diwujudkan dalam karakter yang kuat pun, karakternya tetap diwujudkan dalam dikotomi maskulin-feminim ini sehingga tetap saja ada orang dengan peran-peran tertentu yang diopresi (Sarkeesian, 2010).

Konstruksi lemah kepada pihak perempuan juga terjadi akibat penayangan peran gender yang dibangun oleh media. Selain kurang direpresentasikan, peran gender yang seringkali dipegang oleh perempuan masih banyak ditekankan pada sektor domestik. Pada pekerjaan-pekerjaan sektor publik perempuan masih kalah representasinya dengan laki-laki. Banyaknya acara televisi juga menunjukkan bahwa kaum perempuan kurang diwakilkan dalam role model sebagai pemimpin (Smith, Choueiti, Prescott, & Pieper, 2012).

Beberapa karya sastra pun menunjukkan konstruksi gender yang sama. Karakter perempuan dalam karya sastra biasanya selalu didominasi pada tujuh stereotip, yakni sebagai istri, orang yang penurut, orang yang didominasi, ibu, pelayan yang tua, dewi, dan sosok yang selalu dibebaskan. Semuanya ini seolah menunjukkan bahwa perempuan adalah pihak yang lemah dan karenanya terus-menerus harus diselamatkan, dibebaskan, dan menunggu karakter laki-laki untuk menjemputnya (Ferguson, 1980). Konstruksi gender yang keliru ini juga sudah disosialisasikan sejak seseorang masih kanak-kanak. Konstruksi ini bisa disalurkan melalui gambaran seksis dari buku bacaan wajib anak-anak di Amerika Latin. Pada saat laki-laki digambarkan memiliki banyak sifat positif seperti kreatif, berani, dan unik, perempuan digambarkan sebagai objek percintaan dari sang tokoh laki-laki semata (Savitt, 1982).

Peran-peran yang diberikan kepada perempuan juga merupakan peran-peran yang digambarkan dengan inferior. Mungkin dalam kehidupan nyata perempuan rumah tangga memiliki kapabilitas yang lebih, tetapi di dalam literatur seringkali seorang perempuan yang menikah digambarkan sebagai submisif dan inferior. Kalau mereka mau keluar dari stereotip ini mereka akan digambarkan sebagai perempuan yang mendominasi dan dengan demikian memiliki sifat buruk dan menjijikkan (Savitt, 1982). Begitu juga konstruksi pada anak perempuan dalam literatur. Mereka sering digambarkan sebagai orang yang pasif, inkompeten, penakut, dan penurut. Para gadis ini adalah para penonton aktivitas pria yang setia karena itu dianggap bahwa mereka sendiri tidak memiliki kehidupan. Kalaupun punya aktivitas maka itu adalah aktivitas-aktivitas untuk mempersiapkannya menerima peran domestik (Savitt, 1982).

Mary Ellemann (1968) menyatakan bahwa ada beberapa karakter perempuan dalam karya sastra. Karakter-karakter itu adalah tidak berbentuk, pasif, tidak stabil, saleh, lebih berkutat di bidang spiritualitas dibandingkan laki-laki, dan rela. Perempuan juga seringkali digambarkan terkurung di suatu tempat dan hal ini seolah-olah ingin menunjukkan perjuangannya mencapai kemurnian, ketidakberdosaan, dan seklusi.

Media-media yang telah dibahas ini menjadi sumber bagaimana kita bisa mengkonstruksikan dikotomi karakter antara laki-laki dan perempuan. Sifat-sifat yang ditunjukkan oleh karakter perempuan dalam berbagai karya ini menunjukkan siapa yang kuat dan lemah. Tentu banyak juga karya sastra dan film yang tidak seperti ini, yang memperlihatkan karakter perempuan yang kuat dan mandiri. Tetapi harus diketahui dahulu jumlah proporsinya dengan karya yang telah dibahas di atas. Apakah sudah cukup sebanding? Kalau sudah, apakah karya-karya itu sudah cukup merakyat?

Diskursus yang Melangsungkan Kejahatan

Beberapa contoh media yang telah dibahas adalah diskursus yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Sara Mills mendefinisikan diskursus sebagai seperangkat pernyataan yang memiliki kekuatan institusional, yang berarti seperangkat pernyataan itu memiiki pengaruh mendalam terhadap cara bertindak dan berpikir individu. Diskursus ini meski paling banyak diciptakan dalam komunikasi sehari-hari antar-individu dalam masyarakat, bisa juga diciptakan lewat karyakarya visual dan lisan (Mills, 1997).

Efek dari disebarluaskannya sebuah diskursus sangat masif bagi para penerima. Hal ini bisa terjadi karena diskursus mempengaruhi aspek kognitif dari seseorang dan otomatis mempengaruhi pengetahuan seseorang. Pengetahuan yang dimiliki seseorang adalah cara orang itu memahami realitas yang ada. Lebih jauh lagi diskursus mempengaruhi identitas si penerima diskursus (Mills, 1997).

Sikap menyalahkan korban atas kejahatan yang ia terima merupakan implikasi dari penerimaan diskursus ini. Mereka yang menyalahkan para perempuan yang tidak bisa keluar dari kekerasan rumah tangga, yang menjadi korban pemerkosaan, yang tidak bisa lepas dari pacarnya yang kasar, sebagai orang yang lemah. Mereka men-generalisir kondisi semua korban sama dan kejahatan terjadi karena kelemahan dan kelengahan seseorang. Tetapi bahaya dari diskursus ini tidak berakhir sampai di sini saja.

Menggunakan perspektif konstitutif, kriminologi menganggap bahwa relasi-relasi yang merugikan adalah sumber dari kejahatan. Selama relasi ini masih ada, maka kejahatan pun tidak akan musnah. Salah satu yang membangun relasi itu adalah diskursus-diskursus yang ada di dalam masyarakat (Henry & Milovanovic, 2000).

Melalui penjelasan di atas terlihat bagaimana diskursus yang menampilkan perempuan sebagai pihak yang lemah dan membutuhkan pertolongan laki-laki, akhirnya menjadi sebuah konsensus, atau suatu hal yang disetujui oleh masyarakat bersama. Konsensus inilah yang hadir dan terus merugikan subjek manusia. Secara sederhana, apabila diskursus mengenai perempuan itu lemah akan menyebabkan relasi kekuasaan antara laki-laki dan perempuan terus tidak seimbang. Hal ini membuat manusia terus melukai dan merugikan orang lain (Bak, 1999).

Alih-alih memperbaiki ketidaksetaraan itu, masyarakat semakin mendukung dan menyebarluaskan ideologi yang keliru ini. Dengan semakin banyaknya perspektif yang keliru ini, hubungan sungguhan antara laki-laki dan perempuan menjadi tidak setara. Konstruksi masyarakat yang menempatkan perempuan pada relasi kekuasaan yang tidak seimbang karena mereka dikonstruksikan sebagai lemah, nyatanya melanggengkan kejahatan terjadi.

Dengan demikian apabila Anda masih menganggap perempuan yang menjadi korban kejahatan adalah lemah, hati-hatilah! Mungkin anda adalah penyebab tidak langsung kejahatan itu bisa terjadi.

Semoga ketika membaca artikel ini, pembaca yang budiman tidak lagi khawatir akan pertanyaan apakah pada dasarnya perempuan itu kuat atau lemah. Tulisan yang dibuat oleh orang-orang Fisika dan Biologi tentunya akan memberikan jawaban yang lebih memuaskan. Sedangkan bagi kami, orang-orang yang ada di bidang sosial, jawaban bahwa kuat atau lemah adalah konstruksi sosial adalah jawaban terbaik yang bisa diberikan.

Konstruksi sosial juga yang bilang bahwa memperlakukan setiap orang setara adalah hal yang penting agar selamat dunia-akhirat. Tapi saya tidak ingin panjang-panjang menulis dan membahas konstruksi sosial yang satu ini, yang sudah ada di pikiran orang-orang tetapi sering dilupakan, bahwa “oh, kita setara toh”. Cukuplah kepura-puraan itu.

 

Penulis: Albert Wirya Suryanata

 

Tulisan ini dimuat dalam buku ‘Perempuan Berbicara’, yang diproduksi oleh tim wepreventcrime pada tahun 2014.

 

Daftar Pustaka

Bak, A. (1999). Constitutive Criminology: An Introduction to the Core Concept. In S. Henry, & D.

Milovanovic, Constitutive Criminology at Work (pp. 17-38). Albany: State University of New York Press.

Ellmann, M. (1968). Thinking About Women. New York: Harcourt Brace Jovanovich.

Ferguson, M. A. (1980). Images of Women in Literature: An Evolution. The Radical Teacher, No. 17.

Gracia, E. (2014). Inmate Partner Violence against Women and Victim-Blaming Attitudes Among

Europeans. Bull World Health Organization 92, 380-381.

Henry, S., & Milovanovic, D. (2000). Constitutive Criminology: Origins, Core Concepts, and Evaluation. Social Justice 27(2), 268-290.

Lif, P. (2013, Oktober 8). Domestic Violence and Weak Women. Retrieved November 1, 2014, from Ending Victimisation and Blame: http://everydayvictimblaming.com/submissions/domestic-violence-weak-women/

Mills, S. (1997). Diskursus Sebuah Piranti Analisis dalam Kajian Ilmu Sosial. Jakarta: Qalam.

Sarkeesian, A. (2010). “I’ll make a Man Out of You”: Strong Women in Science Fiction and Fantasy Television. New York: York University.

Savitt, D. J. (1982, Mei 06). Female Stereotypes in Literature (With a Focus on Latin American

Writers). Retrieved November 1, 2014, from Yale-New Haven Teacher Institute:

http://www.yale.edu/ynhti/curriculum/units/1982/5/82.05.06.x.html#d

Smith, S., Choueiti, M., Prescott, A., & Pieper, K. (2012). Gender Roles and Occupation: A Look at Character Attributes and Jon-Related Aspiration in Film and Television. New York: Geena Davis Institute on Gender in Media.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s