Mas Duki: Cinta Memang Gila

Arief.png
Ilustrasi oleh: Arief Tri Hantoro

Sudah saatnya perilaku kekerasan suporter kita

hentikan! Negara kita negara demokrasi, kita harus

mengutamakan musyawarah mufakat. Negara kita

negara kleptokrasi, kalau mau silakan negoisasikan

saja, ada uang maka ada kesepakatan

 

Perkenalkan, nama saya Duncan Urs Kroos Iraola. Saya orang blasteran, ayah saya Inggris, ibu saya orang Jerman, dan saya lahir di Spanyol. Namun, karena saya sudah lama tinggal di Ragunan, kalian cukup panggil saya Mas Duki. Saya bukan Teten Masduki yang jadi pasangannya Rieke Dyah P sebagai cagub Jawa Barat, meskipun sama-sama berperut off-side tapi tetap beda. Saya seorang suporter garis keras klub sepakbola yang bermain di divisi empat liga Indonesia, yaitu Persatuan Sepakbola Alay Mecin Ragunan (PERSALINAN). Saya sendiri tidak tahu kenapa nama klubnya seperti itu, mungkin dulu klub ini didirikan oleh orang-orang sempoyongan sehabis makan soto yang kebanyakan mecin. Saya ngefans sama pemainnya, Bennazo Cecario, biasa dipanggil Becek. Mungkin selain sebagai singakatan namanya, juga karena gaya bermain yang licin serta basah sehingga membuat pemain lawan resah dan gelisah. Dia juga mahir melakukan tendangan jarak jauh, bukan karena sering menjadi gol namun karena tendangannya selalu mengganggu penerbangan domestik.

 

Seantero Ragunan tidak ada yang tidak kenal saya, yang merupakan frontman suporter Persalinan di stadion yang sering melakukan aksi anarkis menyerang suporter lawan ataupun wasit jika Persalinan kalah. Bahkan, kalau ada orang lewat depan rumah saya pasti selalu menundukkan kepala dan pundak, kalau ada orang lewat menggunakan motor pasti dia memutarbalik, karena baru dibuat portal (palang besi) oleh pak RT, biar aman saja. Saya mendapatkan julukan El Loco (bahasa latin: si gila) karena beberapa tindakan yang saya lakukan demi mendukung Persalinan. Salah satunya ketika Persalinan kalah 0-1 melawan Persetan (Persatuan Sepakbola Kelantan), saya muak melihat pertandingan penuh tipu-tipu. Kalau saya muak, saya menggila #unknownquote. Wasit yang memberikan hadiah penalti ke lawan, saya cucuk hidungnya menggunakan jepitan tali pusar bayi. Ketika dia bertanya kenapa hidungnya saya cucuk memakai jepitan tali pusar, saya menjawab “muke lo mirip plasenta (ari-ari)!!”.

 

Namun akhirnya saya tersadar, bahwa kekerasan tidak bisa menyelesaikan masalah, bahkan makin memperkeruh suasana. Sudah saatnya antusiasme disalurkan melalui hal lain. Saya kini mengutamakan musyawarah mufakat. Contohnya ketika sebelum pertandingan, saya menghampiri ofisial pertandingan untuk bernegoisasi hingga mencapai kata sepakat untuk memenangkan Persalinan. Same aje, jamblang…

 

Yanuar Permadi*

 

 

Tulisan ini pernah dimuat dalam buletin wepreventcrime edisi Edisi November 2012.

**wepreventcrime merupakan sebuah wadah bagi mahasiswa kriminologi untuk mengembangkan kemampuan dan minatnya di dunia jurnalistik. Silahkan kunjungi kanal wepreventcrime untuk melihat artikel-artikel lainnya dan mengunduh buletinnya.

 

P.S: Tulisan ini dimuat kembali sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sepakbola Indonesia. Setelah sanksi dari FIFA dicabut, kami berharap sepakbola Indonesia dapat lebih berjaya lagi, dan untuk para suporter agar tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis lagi. Semua tindakan anarkis akan berujung pada kerugian yang akan dialami tidak hanya sesama suporter tetapi juga oleh tim yang kalian sendiri dukung. Mendukunglah semaksimal mungkin namun tetap sportif dan ingat kita satu Indonesia. Jangan mau terprovokasi! Lebih baik tertawa daripada ‘terbawa’. Salam olahraga

 

 

Advertisements